puisi 90 ,karya chairil anwar







Chairil Anwar Punya 5 Kelakuan Keren yang Harus Kamu Tiru
karya chairil anwar



profil:Chairil Anwar (1922-1949) Penyair Legendaris Indonesia Puisi-puisi "Si Binatang Jalang" Chairil Anwar telah menjadi inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan bangsanya. Pria kelahiran Medan, 26 Juli 1922, ini seorang penyair legendaris Indonesia yang karya-karyanya hidup dalam batin (digemari) sepanjang zaman. Salah satu bukti keabadian karyanya, pada Jumat 8 Juni 2007, Chairil Anwar, yang meninggal di Jakarta, 28 April 1949, masih dianugerahi penghargaan Dewan Kesenian Bekasi (DKB) Award 2007 untuk kategori seniman sastra. Penghargaan itu diterima putrinya, Evawani Alissa Chairil Anwar. Chairil memang penyair besar yang menginspirasi dan mengapresiasi upaya manusia meraih kemerdekaan, termasuk perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan. Hal ini, antara lain tercermin dari sajaknya bertajuk: "Krawang-Bekasi", yang disadurnya dari sajak "The Young Dead Soldiers", karya Archibald MacLeish (1948). Dia juga menulis sajak "Persetujuan dengan Bung Karno", yang merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945. Bahkan sajaknya yang berjudul "Aku" dan "Diponegoro" juga banyak diapresiasi orang sebagai sajak perjuangan. Kata Aku binatang jalang dalam sajak Aku, diapresiasi sebagai dorongan kata hati rakyat Indonesia untuk bebas merdeka. Chairil Anwar yang dikenal sebagai "Si Binatang Jalang" (dalam karyanya berjudul Aku) adalah pelopor Angkatan '45 yang menciptakan trend baru pemakaian kata dalam berpuisi yang terkesan sangat lugas, solid dan kuat. Dia bersama Asrul Sani dan Rivai Apin memelopori puisi modern Indonesia. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Hari meninggalnya diperingati sebagai Hari Chairil Anwar. Chairil menekuni pendidikan HIS dan MULO, walau pendidikan MULO-nya tidak tamat. Puisi-puisinya digemari hingga saat ini. Salah satu puisinya yang paling terkenal sering dideklamasikan berjudul Aku ( "Aku mau hidup Seribu Tahun lagi!"). Selain menulis puisi, ia juga menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Dia juga pernah menjadi redaktur ruang budaya Siasat “Gelanggang” dan Gema Suasana. Dia juga mendirikan “Gelanggang Seniman Merdeka” (1946). Kumpulan puisinya antara lain: Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949); Deru Campur Debu (1949); Tiga Menguak Takdir (1950 bersama Asrul Sani dan Rivai Apin); Aku Ini Binatang Jalang (1986); Koleksi sajak 1942-1949", diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986); Derai-derai Cemara (1998). Buku kumpulan puisinya diterbitkan Gramedia berjudul Aku ini Binatang Jalang (1986).


Berikut ini adalah beberapa contoh puisi karya chairil anwar,


  1. PENERIMAAN

    Kalau kau mau kuterima kau kembali
    Dengan sepenuh hati

    Aku masih tetap sendiri

    Kutahu kau bukan yang dulu lagi
    Bak kembang sari sudah terbagi

    Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

    Kalau kau mau kuterima kembali
    Untukku sendiri tapi

    Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

  (1943)


  2.SENJA DI PELABUHAN KECIL

   Ini kali tidak ada yang mencari cinta
   di antara gudang, rumah tua, pada cerita
   tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
   menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.

   Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
   menyinggung muram, desir hari lari berenang
   menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
   dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

   Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
   menyisir semenanjung, masih pengap harap
   sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
   dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap.

 (1946)


 3. PEMBERIAN TAHU

 Bukan maksudku mau berbagi nasib,
 nasib adalah kesunyian masing-masing.
 Kupilih kau dari yang banyak, tapi
 sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.
 Aku pernah ingin benar padamu,
 Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,

 Kita berpeluk cium tidak jemu,
 Rasa tak sanggup kau kulepaskan.
 Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,
 Aku memang tidak bisa lama bersama
 Ini juga kutulis di kapal, di laut tak bernama!

 (1946)


 4.HAMPA

 Sepi di luar, sepi mendesak-desak
 Lurus-kaku pohonan. Tak bergerak
 Sampai ke puncak
 Sepi memagut
 Tak suatu kuasa-berani melepaskan diri
 Segala menanti. Menanti-menanti.
 Sepi.
 Dan ini menanti penghabisan mencekik
 Memberat-mencengkung punda
 Udara bertuba
 Rontok-gugur segala. Setan bertampik
 Ini sepi terus ada. Menanti. Menanti.

 (1943)
 5.SAJAK PUTIH

 bersandar pada tari warna pelangi
 kau depanku bertudung sutra senja
 di hitam matamu kembang mawar dan melati
 harum rambutmu mengalun bergelut senda

 sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
 meriak muka air kolam jiwa
 dan dalam dadaku memerdu lagu
 menarik menari seluruh aku

 hidup dari hidupku, pintu terbuka
 selama matamu bagiku menengadah
 selama kau darah mengalir dari luka
 antara kita Mati datang tidak membelah…

 Buat miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
 dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di
 alam ini!
 Kucuplah aku terus, kucuplah
 Dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…

Komentar